Setiap zaman memiliki ujian yang berbeda. Ada suatu masa ketika manusia diuji oleh langkanya pengetahuan, tapi kemudian lahirlah pemikir dan perpustakaan yang menjadi sumber dan muasal pengetahuan. Ada juga masa ketika manusia diuji oleh penjajahan, tapi lahirlah gerakan perlawanan dan pembebasan. Namun, ada suatu masa ketika manusia dihadapkan pada suatu paradoks. Barangkali, inilah zaman kita hari ini. Hari ini, pengetahuan begitu melimpah. Informasi deras mengalir. Teknologi berkembang dengan kecepatan yang melampaui imajinasi, tetapi manusia justru kesulitan menemukan kebijaksanaan.
Sungguh, kita hidup di dunia yang mampu menghubungkan manusia hanya dalam hitungan detik, tetapi kita merasa hubungan antarmanusia semakin “renggang”. Kita berhasil mencipta kecerdasan buatan yang mampu menjawab hampir semua persoalan, tetapi mungkin belum tentu mampu menjawab pertanyaan yang paling mendasar: untuk apa ilmu digunakan? Hemat saya, di titik inilah, masa depan sebuah peradaban dipertaruhkan.
Krisis Spiritual
Bisa jadi benar apa yang pernah diingatkan oleh Seyyed Hossein Nasr, bahwa krisis modern bukan pertama-tama krisis teknologi an sich, melainkan krisis spiritual. Manusia modern berhasil menaklukkan alam, tetapi diam-diam kehilangan kemampuan menaklukkan dirinya sendiri. Manusia modern semakin pintar mengendalikan mesin, tetapi sering tak sanggup mengendalikan nafsu, ego, dan hasrat akan kuasa. Maka, boleh jadi, persoalan terbesar abad ini bukanlah seberapa canggih manusia bisa mencipta tekhnologi, melainkan apakah manusia hari ini masih cukup bijaksana untuk menggunakan kecanggihan itu demi kehidupan?
Dalam lanskap seperti itulah, saya memandang visi UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai kampus “Rahmatan lil 'Alamin” bukan sekadar rumusan administratif yang terpampang di dokumen resmi kelembagaan. Sungguh, ia adalah sebuah panggilan sejarah. Sebuah amanat suci agar kampus ini tidak larut menjadi pabrik gelar, apalagi sekadar penyedia tenaga kerja bagi dunia industri. Kampus harus tetap menjadi ruang di mana manusia belajar menjadi manusia!
Sebab rahmat tidak pernah lahir dari kecanggihan semata. Rahmat lahir ketika ilmu bertemu dengan kasih sayang. Ketika kecerdasan dipandu oleh kebijaksanaan. Ketika kekuasaan dibatasi oleh akhlak, dan ketika teknologi tunduk kepada nilai-nilai kemanusiaan. Dengan sangat jelas, al-Qur'an mengabadikan misi kerasulan Nabi Muhammad melalui kalimat yang sangat padat, tetapi mengandung makna yang sangat jelas: "Wa mā arsalnāka illā raḥmatan lil-'ālamīn" (Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam), (QS. Al-Anbiya': 107).
Senyatanya, ayat ini menawarkan paradigma peradaban. Bahwa ukuran keberhasilan bukanlah seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, tetapi seberapa luas manfaat yang dihadirkan. Bukan seberapa tinggi dan modern bangunan yang didirikan, tetapi seberapa banyak kehidupan yang dimuliakan.
Rahmatan lil ‘Alamin
Di sinilah UIN Sunan Gunung Djati Bandung menemukan identitasnya. Menjadi kampus Rahmatan lil 'Alamin berarti menjadikan seluruh aktivitas akademik sebagai ikhtiar menghadirkan rahmat. Riset bukan sekadar memenuhi target publikasi, tetapi menjadi jalan menyelesaikan persoalan masyarakat. Inovasi bukan sekadar mengejar paten dan pengakuan internasional, tetapi menghadirkan keadilan sosial. Ilmu dan pengetahuan yang diajarkan bukan sekadar memudahkan mendapat pekerjaan, tetapi memperluas kemanfaatan.
Syed Muhammad Naquib al-Attas, salah seorang pemikir besar Islam, pernah mengingatkan bahwa tragedi terbesar dunia modern adalah “hilangnya adab”. Bukan hilangnya ilmu, melainkan hilangnya adab terhadap ilmu. Maka lahirlah manusia-manusia cerdas, tetapi menggunakan kecerdasannya untuk mengeksploitasi. Lahirlah teknologi yang luar biasa, tetapi dipakai untuk memanipulasi kesadaran publik. Informasi tersedia tanpa batas, tetapi kebenaran justru semakin sulit ditemukan.
Bukankah itu yang sedang kita saksikan hari ini?
Algoritma media sosial bekerja berdasarkan perhatian, bukan kebijaksanaan. Popularitas sering menggantikan otoritas keilmuan. Kebisingan lebih mudah viral daripada kedalaman berpikir. Fakta ini mengingatkan kita pada peringatan yang disampaikan oleh seorang filsuf Jerman, Martin Heidegger, bahwa menurutnya "Man is in flight from thinking" (manusia sedang melarikan diri dari keberpikiran). Di ruang digital, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk diam, merenung, dan mendengarkan.Yang ada adalah kebisingan. Saling bersahut-sahutan.
Karena itu, tantangan UIN Sunan Gunung Djati Bandung sesungguhnya bukan sekadar mengajarkan mahasiswa bagaimana memanfaatkan Artificial Intelligence. Jauh lebih penting adalah membentuk manusia supaya memiliki kecerdasan etik untuk menentukan kapan teknologi harus digunakan, kepada siapa ia diabdikan, dan demi nilai apa ia ditumbuhkembangkan dan diperjuangkan.
Bertemunya Akal dan Hati
Di sinilah makna terdalam dari integrasi ilmu. Integrasi bukan hanya mempertemukan fakultas agama dengan fakultas sains. Dalam bahasa Ahmad Tafsir, integrasi ilmu adalah siasat mempertemukan akal dengan hati, inovasi dengan hikmah, kecanggihan teknologi dengan kesadaran akan kehadiran Tuhan. Ismail Raji al-Faruqi pernah juga mengingatkan bahwa krisis umat berakar pada terbelahnya cara pandang terhadap ilmu. Ketika ilmu agama berjalan sendiri, ia berisiko kehilangan daya transformasi sosial. Ketika ilmu modern berjalan tanpa agama, ia mudah kehilangan orientasi moral. Di titik ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung dipanggil untuk menjembatani dua dunia itu, bukan agar keduanya saling menundukkan, tetapi agar keduanya berjalan beriringan, saling menyempurnakan.
Peradaban, pada akhirnya, tidak dibangun oleh mesin. Malek Bennabi, seorang pemikir Aljazair konon pernah mengatakan, “Civilisation is not built by things, but by men.” Teknologi hanyalah perpanjangan tangan manusia. Jika manusia kehilangan arah, maka teknologi pun akan kehilangan tujuan. Sebaliknya, jika manusianya memiliki adab, maka bahkan teknologi paling mutakhir sekalipun dapat menjadi jalan menghadirkan rahmat.
Islam sebagai Rahmat yang Hidup
Mungkin itulah sebabnya Ibnu Khaldun meyakini bahwa keruntuhan sebuah peradaban selalu diawali oleh keruntuhan manusianya. Bangunan masih berdiri, ekonomi mungkin masih bertumbuh, teknologi terus berkembang, tetapi ketika moral runtuh, sesungguhnya peradaban sedang menunggu waktunya untuk roboh. Karena itu, keberhasilan UIN Sunan Gunung Djati Bandung tidak akan pernah cukup diukur melalui peringkat internasional, jumlah sitasi, atau megahnya infrastruktur kampus. Semua itu penting, tetapi ia bukan tujuan akhir. Ukuran yang lebih hakiki adalah ketika dari ruang-ruang kuliah lahir manusia yang kehadirannya menenangkan, ilmunya mencerahkan, kepemimpinannya menghadirkan keadilan, dan inovasinya membawa manfaat bagi sesama.
Barangkali, itulah makna terdalam dari kampus Rahmatan lil 'Alamin. Bukan sekadar kampus yang mengajarkan Islam, melainkan kampus yang menghadirkan Islam sebagai rahmat yang hidup. Ia hidup dalam pikiran, dalam karya, dalam teknologi, dan dalam peradaban.
Sungguh! Sejarah tidak akan mengingat sebuah universitas hanya karena gedung-gedungnya yang megah atau laboratoriumnya yang modern. Sejarah akan mengingatnya karena manusia-manusia yang berhasil ditempanya. Dan ketika manusia-manusia itu menjadikan ilmu sebagai cahaya, adab sebagai fondasi, serta rahmat sebagai orientasi hidup, saat itulah sebuah kampus tidak lagi sekadar mendidik generasi, melainkan sedang menulis babak baru bagi lahirnya sebuah peradaban (tamaddun). Allahu a’lam bi-Shawab.[]
Oleh: Radea Juli A. Hambali
(Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung)


